Menolong, Mengabdi, Prestasi #SiamoPaMeRa.

------------------------------Together We Care-----------------------------

Senin, 25 April 2011

Survival with Pamera

Eleven Team
Talking about what you do last holiday, Anak anak Pamera Smansapati punya cerita unik yang menarik untuk diceritakan. Yups! Kami, anggota pamera mengikuti kegiatan survival yang diadakan di Jolong. Apa itu survival? Survival (diambil dari kata “survive”) diartikan sebagai bertahan hidup, sementara pengertian selanjutnya dijabarkan sebagai bertahan hidup dengan alat/ bahan seminimal mungkin, hehe.. Kita (terutama aku ) juga baru tau secara runtutnya saat survival itu sendiri kok.
 
Kegiatan ini diilakukan dengan kerjasama pamera dengan pihak paresmapa. Tentu saja dengan pertimbangan pertimbangan tertentu.
Hmm.. ngapain aja sih kami selama mengikuti survival ini? Oke, cekidot!
1. Preparing Survival
Beberapa hari sebelum dilaksanakannya survival. Kami sempat melakukan beberapa kali pertemuan antar anggota untuk membahas mengenai perlengkapan dan beberapa persiapan pra-survival. Mulai dari preparing perlengkapan pribadi, pembagian kelompok, sampai tugas – tugas serta perlengkapan kelompok. Masing – masing kelompok Diharuskan mengenakan kalung dengan berbagai jenis, misalnya, rangkaian cabe merah, ijo, ada yang dari bawang merah, ada juga bawang putih. Semua di fix-kan, supaya nantinya tidak ada kelompok yang mengenakan kalung dengan jenis sama. Tiap tiap dari W1 juga diwajibkan untuk mengenakan kaos berwarna kuning untuk hari pertama dari pemberangkatan, dan warna merah untuk esok harinya, kami juga diharuskan mengenakan “training”(bnr gak sih tulisannya?) . Tentu saja ini sudah melalui beberapa pertimbangan oleh kakak kakak w2.
2. Trip to Jolong
3rd and 4th July 2010. Kami berangkat ke Jolong. Lokasi dimana serangkaian kegiatan kami lakukan nantinya. Kurang dari pukul 14.00 WIB. Seluruh w1, w2, dan w3 berkumpul di sekolah, tepatnya sebelah kiri lapangan tenis sekolah. Kendaraanpun siap. Kami berangkat dengan 1 truck. Dan, disinilah letak serunya, kita bisa bener bener nikmatin angin ditengah perjalanan, denngan kondisi jalan yang memang tidak rata; menjaga keseimbangan, atau bahkan jatuh, terbanting, itu justru menjadi titik awal keseruan kami, disini pulalah keeakraban terus terasa antar anggota pamera maupun paresmapa yang ikut serta dalam truk itu . Sebuah games serupun muncul, kami mencoba menjaga keseimbangan selama berada di dalam bak truk tersebut tanpa berpegangan dengan apapun, hanya bertumpu pada kaki. Beberapa puluh meter (entah kilometer) dari lokasi pemberhentian. Kami disambut dengan beberapa pemandangan indah disepanjang kanan-kiri jalan. Hmm…
3. First day
Tiba Tiba truk kami berhenti. Yups! Kami sampai di depan sebuah lapangan sekolah dasar setempat. Turunlah kawanan kami satu, empat, tujuh, delapan, Sembilan, semuanya. Perlengkapanpun mulai diturunkan dari atas truk. Kami meneruskan perjalanan( yang tiidak begitu jauh) menuju tempat dimana kami istirahat nantinya. Ya, di sebuah lokasi semacam aula di lokasi setempat. Setelah membersihkan, menata, dan meletakkan segala sesuatunya, kami berkumpul di sebuah lapangan kecil untuk melaksanakan apel pembukaan.
Setelah melalui serangkaian istirahat, berkumpul dan saling bercanda, shalat magrib, tibalah waktu shalat isya`, namun, kami berkumpul dulu di lapangan sekolah dasar setempat yang tadinya dijadikan lokasi pemberhentian kami. Disini kami dibagi menjadi dua kelompok saja, kami akan mengikuti games yang ddiberikan oleh kakak- kakak w2. Games pertama, diperuntukkan secara individu. Disini kami harus mengerjakan soal soal berbau matematik yang disampaikan dengan isyarat tangan yang telah ditentukan, dan kami harus menjawabnya dengan isyarat tersebut pula. Angkanya nggak nanggung- nanggung, aku saja harus mengulang, istilah kerennya remidi lah (apa aku yang emang bego ya?hmm). Tapi asli! Seru! Dan disaat semua anggota w1 berhasil menyelesaikan games, kami mengikuti games berikutnya. Kali ini secara berkelompok.
Games nya adalah kami harus berbaris berdasarkan alis tertebal, berikutnya berdasarkan jempok kaki terbesar, lubang hidung terlebar, senyum terlebar, hingga muka tersadis( berhubung tampang sadisq ada di tengah, terjadilah pro dan kontra). Berikutnya adalah acting! Kami, satu persatu harus memperagakan sebuah aktifitas, bisa juga tokoh dalam kondisi bibir ter”lakban”, dan harus bisa dijawab oleh teman teman yang lain, ada yang berperan sebagai fitri tropika, aderay (aku), olga. Ada juga yang harus memperagakan “bergairah”, kakak adik, dan sejenisnya. Suasana memanas. Maksudnya, kami semakin bersemangat.
3. Jalan malam.
Acara yang pasti dan akan selalu di tunggu tunggu adalah jalan malam. Setelah shalat isya` dan kami sempat melakukan sedikit keseruan berbincang bersama, kami menuju Sekolah Dasar setempat. Sebelumnya kami diharuskan membawa peluit dan senter masing masing untuk penerangan. Disamping mendapat pengarahan jalur jalan malam, kami juga mendapat sebuah kertas yang telah tertulis nama kami masing masing dan nomor urut pemberangkatan, satu persatu untuk peserta laki- laki (yang meraasa laki laki aja) , dan dua per dua untuk peserta perempuan. Dibaliknya terdapat sebuah “nama baik” yang harus kami hafalkan, tujuannya agar kita tidak sampai mengosongkan pikiran selama perjalanan. Nama baik yang sungguh baik diberikan oleh kakak kakak panitia kepada saya adalah 4769832059432987655559431975432109866399877395798324956795780. Cukup baik bukan? lebih panjang dari nama lengkapku yang memang sudah panjang (katanya). Aku menddapat nomor keberangkatan ke lima dari enam kali pemberangkatan. Ada untungnya, kami lebih banyak mendapat pengetahuan mengenai jalan malam dan ilmu ilmu bertahan hidup dari kakak kakak paresmapa. Dibawah nama baik kami tertulis 4 pos yang harus kami lalui beserta tugas tugas yang harus kami jalankan per pos.
Tugas pertamaku adalah menyebutkan kekurangan kakak kakak yang bertugas dip is satu, tugas pos berikutnya adalah menunjukkan tujuh wajah terjelekku. (susah! Biasa aja udah jelek, bingung jadinya!hmmm… ni lagi disuruh 5 menit masing masingnya.)pada pos berikutnya aku harus berpose ala fitri tropika, pada pos ini karena aku belum berhasil menyebutkan nama baikku, aku harus membuat sebuah gelang dari rumput dan mengenakannya pada salah satu w2 yang bertugas di pos berikutnya. Dan pada pos terakhir aku diharuskan menuliskan semua yang saya ketahui dari “Ranchodas Chanchad”, karena keterbatasanku, akupun tak bisa menjawab secara sempurna, kami diharuskan menyerahkan kacang atum ke salah satu w3 yang telah ditetapkan namanya di pemberhentian terakhir esok paginya. Pos pos pun kami lalui, perjalanan semakin melelahkan dengan medan tanjakan dengan derajat kemiringan dan tingkat kesulitan tinggi.
Sampailah kami ke aula dalam kondisi berkeringat. Kami langsung tidur.
4. Last day of survival
Setelah menghabiskan malam yang cukup dingin, kamipun bangun. Setelah shalat subuh, kami berkumpul di lapangan, disinilah kami melakukan senam unik, dan masing masing dari kami diharuskan membuat satu gerakan. Beberapa diantaara gerakan itu adalah senam jempol, senam dugem, goyang gergaji, dan lain sebagainya.
Pada acara berikutnya, games diberikan. Kami diberikan dua buah rafia yang saling diikatkan dengan pasangan masing masing(berdasarkan barisan). Dan yang berhasil melepaskan ikatan terlebih dahulu diberikan sebuah penghargaan berupa kalung cabai oleh kakak w3. Acara berikutnya adalah materi survival yang diberikan oleh kak Sigit, seorang alumni paresmapa, disinilah kami mendapat penjelasan apa itu survival. Pada praktiknya, kami diberi batasan waktu tertentu untuk membawa keluar segala logistic yang kami bawa (dan yang kami bawa memang kadang tidak logis, haha). Kami, pada akhirnya, disediakan 5 buah mie instant dengan 5 rasa berbeda dan harus cukup untuk kesebelasan kami(karena saat itu kami bersebelas). Alatnya? Kami hanya disediakan satu buah kompor minyak, dan sebuah kompor lapangan. Cara makannya? Kami berinisiatif menggunakan daun untuk alas makan dan ranting sebagai sumpitnya. Yah, apadaya, karena keganasan kami, berbagai carapun dihalalkan, termasuh, makan langsung dari panci, menggunakan bungkus mie, dansebagainya. Berikutnya kami harus menghabiskan sebuah apel untuk bersebelas. Asyik bukan?! Ya dong. Namanya juga harus kompak, apa apa buat bareng bareng, hehe.. nagih deh pokoknya!
Pulang? Eits, masih ada satu games tambahan, kali ini, ada sebuah lingkarang di tanah, dan satu kakak (saat itu perempuan) memberikan instruksi, air untuk di dalam lingkaran, dan darat untuk luar lingkaran(kalo nggak salah inget). Dari semuanya, yang terlambat adalah yang kalah dan keluar dari permainan, dan pada akhirnya terjadi babak final yang seri(teruuuusss), karena seri maka, uang lima ribu rupiah dari kakak w3 harus dibagi dua, dan salah satu dari kami (yang menang di final) mendapat sebuah kalung dari rafia yang harus dikenakan hingga sampai disekolah. Hadiah lainnya adalah air mineral dalam kemasan gelas untuk berdua. Namun, akhirnya, ada tambahan air mineral, kali ini untuk bersebelas. Gimana uang lima ribunya? Buat bersebelas aja deh..
Acara berikutnya adalah foto bersama. ^_^ Setelah puas bernarsis ria, kami membersihkan aula,merapikan barang barang kami, berkemas, dan pulaaaannnggg…
Kami sampai si sekolah sekitar pukul 10.00 wib.
Yeah! That’s all what we did, bukan apapun yang membuat segala kegiatan menjadi berharga tapi kebersamaanlah yang membuatnya semakin bermakna. C u next survival yak?
^_^



Article by
Euritaru
Endah Purwa Ari Puspitaningrum

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Like This .........:p

cicigitcih mengatakan...

Kapan survivalnya mbak??

admin mengatakan...

ini adminnya alumni,,jadi kurang tau klo masalah itu

Posting Komentar

 

Fan Page PaMeRa

PaMera's Slide

Follower PaMeRa

Tweet of PaMeRa